Lembaga Ekonomi Ummat (LEU) adalah tindak lanjut dari kongres ekonomi Ummat di hotel Sahid Jakarta 21-24 April 2017 yang di selenggarakan oleh MUI. Lembaga Ekonomi Ummat di bentuk untuk menterjemahkan hasil kongres ekonomi Ummat. *Fokus Program* Tahap 1 : Mendirikan Gerai LeuMart (Lembaga Ekonomi Ummat Mart) sebanyak banyaknya sebagai jalur distribusi dan pemasaran Tahap ini mendidik dan membina Ummat menjadi pedagang yang jujur dan amanah, serta faham menerapkan prinsip dagang yaitu : Modal kecil, Risiko kecil dan untung besar dan berkah Tahap 2: Pembinaan, pelatihan dan pendampingan UMKM sehingga menjadi usaha yang berkembang In sya Allah *Ada 4 jenis type gerai yang kami tawarkan :*👇🏼 *Type W atau warung* *Investasi Pemilik Toko* -Modal perlengkapan Rp 16 juta -Kerjasama penyertaan modal Rp 2 juta -uang Pendaftaran Rp 500 ribu,- *Total Rp 18,5 Juta* Investasi Leu Mart *Produk konsinyasi 20 juta* *Type A* *Investasi Pemilik Toko* -Modal ...
Kenapa LEU Mart Beda? Konsep bisnis yang ditawarkan LEU Mart sangat murah & efisien dibandingkan dengan bisnis lainnya dengan sistem *Konsinyasi* didukung dengan sistem IT yang terintegrasi yang belum dimiliki oleh ritel lain. Ditambah lagi diperkuat dengan adanya pelatihan dan pendampingan para mitra secara gratis, LEU Mart mampu menghadirkan sebuah konsep baru dalam bidang ritel. Lembaga Ekonomi Umat (LEU) Mart dalam implementasinya didukung penuh dari pemerintah (Kementerian Koperasi dan UKM serta Majelis Ulama Indonesia (MUI). LEU saat ini fokus di pengembangan jaringan retail, yang didukung oleh: • PT. Infomedia Telkom sebagai penyedia layanan sistem IT, • PT POS Logostik Indonesia sebagai penyedia layanan logistik, • Bank BNI Syariah sebagai penyedia layanan sistem banking
Sudah bukan rahasia lagi di dalam bisnis ritel baik ritel offline (brick and mortar) maupun ritel online (click) mempunyai dua kendala utama. Yaitu, barang Fast Moving Items (FMI) atau barang Best Seller yang putus jual. Yang menyebabkan kehabisan stok (Stock Out). Barang Slow Moving Items (SMI) yang menumpuk di gudang. Yang menyebabkan kelebihan barang (Over Stock) hingga menjadi barang mati (Dead Stock). Sehingga harus ada pengelolaan inventory (Inventory Management), maka muncullah istilah Inventory Turn Over (ITO) yang sering disampaikan oleh Suhu Wan. Dalam istilah lain adalah Stock Days (SD) dan Sales Stock Ratio (SSR). Beberapa perusahaan ritel tidak mengelola inventory dengan baik sehingga menyebabkan kegagalan bisnis ritelnya. Itu salah satu faktor kegagalan dalam bisnis ritel, yaitu tidak mengelola dan mengontrol inventory dengan baik. Tidak mengontrol inventory/stock baik yang fast moving items (FMI) penyebab stock out, maupun slow moving items (SMI) penyebab over stock ...
Komentar
Posting Komentar